Kebahagiaan tiap keluarga itu berbeda-beda. Yap, itu benar sekali. Beberapa hari yang lalu, saya mendengar ucapan itu dari seorang teman. Dan saya sangat setuju. Kebahagiaan tiap keluarga itu nggak sama, tergantung seperti apa kepribadian keluarga di dalamnya.
Pernah seorang teman saya heran dengan saya. Dia tidak mengerti kenapa saya bisa betah tidak sms-an dengan keluarga sehari saja. Menurut dia, keluarga saya tidak sayang pada saya. Padahal, itu nggak ada hubungannya sama sekali.
Perhatian keluarga saya, nggak mesti harus sms sehari sekali, nanyain lagi ngapain, udah makan belum, dsb. Wong saya juga cuma ngekos deket kampus, yang notabene kosan saya berjarak sekitar 6-7 km dari rumah (jalannya belok-belok lho ya, haha).
Perhatian keluarga saya lebih ke hal-hal kecil, semisal setiap saya pulang ke rumah pasti dibuatkan makanan kesukaan saya oleh mama. Pasti ada lauk enak tiap pulang ke rumah. Perhatian keluarga saya bukan dengan bicara saja, tapi lebih ke tindakan.
Berbeda dengan teman saya tadi, yang ditelepon SETIAP HARI oleh orang tuanya, walaupun dia sudah dua setengah tahun kuliah di Jogja. Saya memang nggak bisa nge-judge, toh setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Hanya saya sedikit kesal ketika dia dengan seenaknya men-judge orang lain.
Well,tulisan ini sekadar curhatan. Nggak usah dimasukkan pikiran, biarkan angin lalu saja :)
Selasa, 27 Desember 2011
Sabtu, 12 November 2011
Saturday in Love

Sebenernya judul di atas bukan karena aku lagi jatuh cinta, fall in love, aishiteru, dan segala macam nama lain buat jatuh cinta. Tapi, karena nanti malam salah satu temenku mau nikah! Yap, ini pernikahan orang kedua di angkatanku waktu SMA.
Temenku adalah sang pengantin cewek. Dia cuma beberapa bulan lebih tua dari aku. Si pengantin cowok, adalah cowok dewasa yang udah kerja di Jakarta. Istilahnya, kalo orang tua suka bilang, udah mapan.
Yang aku puji adalah keberanian temanku itu. Saat orang lain masih sibuk pacaran, malah ada yang sibuk nyari pacar, dia udah berani ambil keputusan untuk menikah. Sesuatu yang menurutku sakral, sesuatu yang nggak bisa sembarangan dilakukan, dan hanya dilakukan kalo kedua pihak sudah siap, terutama bagi yang perempuan. Sewaktu aku tanya apa dia udah siap,dia bilang ,"Insya Allah udah". Di usia 21 tahunnya, dia akan menikah.
Menikah menurutku, berarti sudah siap menjadi istri, ibu, teman, kekasih, dan penjaga. Lima peran yang nggak mudah, tapi temanku siap untuk menjalani semua itu do umurnya yang baru di awal kepala dua. Salut, beneran salut untuk temenku itu :)
Well, kalo dibilang tulisan ini nggak ada artinya alias nyampah, emang tulisan ini ditulis hanya dalam rangka menyambut pernikahan temenku itu nanti malam. Dan, untuk dia, aku mau kasih gambar di atas :)
Langganan:
Postingan (Atom)